“Krisis Kepemimpinan: Suatu Kritik atas Cara Komunikasi Presiden RI
ke-7 Joko Widodo”
Ricky
Adryawan
Universitas
Negeri Jakarta
Pertengahan tahun 2017 ini
beredar banyak sekali berita-berita mengenai bibit-bibit disintegrasi di tengah
masyarakat baik di kota besar maupun di desa. Pemicu dari perpecahan yang
terjadi antar elemen-elemen masyarakat tentunya tidak dapat dipisahkan dari
sisa-sisa kontestasi politik yang terjadi akibat menyinggung isu sensitif dari
anggota masyarakat, yaitu nuansa persinggungan dalam hal kepercayaan atau agama.
Isu ini menjadi topik hangat di kehidupan masyarakat dan meninggalkan jejak
etnosentrisme yang kuat dalam menyikapi anggota masyarakat yang lain. Sialnya
sikap etnosentris tadi menimbulkan keretakan dalam persatuan bangsa di tingkat horizontal
yang didasari atas bermacam-macam anutan paham.
Banyak sekali bentuk pembelaan
dari tiap-tiap anggota masyarakat yang berdiri mendukung di sisi kepercayaan
atau agama, namun ada juga yang berdiri di tiang nasionalisme atau pancasila. Kalau
kita mengikuti perjalanan kontestasi politik di Ibukota, tentunya banyak sekali
aksi damai yang membela dalam dimensi agama, dan ada juga yang membela dalam
dimensi nasionalisme seperti aksi yang mengusung kebhinekaan. Itu baru di dunia
nyata, belum lagi banyak sekali dialog-dialog atau komentar-komentar yang
menjurus pada keberpihakan dan cenderung pada kebencian yang tidak lagi
menggunakan rasionalitas dalam tindakannya sesuai keberagaman berpikir,
berbudaya, dan beragama yang kita sama-sama anut.
Dari berbagai permasalahan
perpecahan yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat kita, tentunya
diperlukan sosok pemimpin yang dapat menetralisir ketegangan yang banyak sekali
menguras waktu dan tenaga masyarakat. Diperlukannya sosok pemimpin dalam
kondisi seperti ini karena pemimpin ditengarai seharusnya dapat mengajak dan
menggerakan orang lain untuk melakukan sesuatu demi mencapai tujuan tertentu. Sesuai
dengan ungkapan Howart E. Hyot dalam bukunya Aspect of Modern Public Administration, yang mendefinisikan
kepemimpinan sebagai seni mempengaruhi tingkah laku manusia dan juga kemampuan
untuk membimbing orang.[1] Berangkat dari konsepsi tersebut kiranya pemimpin
dapat mentransmisikan wacana yang ingin dieksternalisasikan dalam perwujudan
komunikasi yang meyakinkan atau persuasif.
Sikap
Presiden Joko Widodo atas Perpecahan yang Berkembang di Masyarakat
Bicara mengenai siapa pemimpin
yang perlu untuk menetralkan ketegangan dan memberikan suatu proses untuk
meyakinkan publik, demi teratasinya problema umum sesuai dengan cara yang
dilandasi kaedah-kaedah yang telah disepakati dalam konsesus nasional terdahulu
dan membuahkan Pancasila sebagai landasan bergeraknya kehidupan bangsa, maka
Presiden—dalam hal ini Joko Widodo—dan cara komunikasinya yang meyakinkanlah
yang dapat mempengaruhi masyarakat.
Dalam perkembangannya Presiden
Joko Widodo banyak sekali memberikan pidato-pidato kenegaraannya yang bersifat
untuk meyakinkan kembali masyarakat untuk melandasi cara bertindak dan bersikap
kepada orang lain sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan mengakui keberagaman.
Banyak sekali pidato kenegaraan tersebut dilakukan Presiden Joko Widodo di
rapat dengan menteri-menterinya, di musyawarah besar atau rapat kerja
partai-partai pendukung pemerintah, maupun di media massa seperti televisi dan
sosial media.
Langkah Presiden Joko Widodo
tentunya sudah sangat sesuai dalam melaksanakan fungsi dari pemimpin agar tidak
terciptanya gap yang semakin lebar
antara elemen masyarakat dengan elemen yang lainnya. Dengan meyakinkan
masyarakat baik yang sedang bertegangan dalam bentuk komunikasi politik antar elit, pembubaran ormas yang
dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai khas Indonesia, hingga dijalankannya
program pekan Pancasila yang dimulai pada 1 Juni 2017. Tentunya saya sangat
menghargai dan mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo dalam mendinginkan
ketegangan ini.
Kritik
dan Solusi Kritis atas Cara Komunikasi Presiden Joko Widodo
Dari banyak sekali komunikasi
persuasif yang dijalankan Presiden Joko Widodo dalam meninggikan kembali semangat
kebhinnekaan, agaknya perlu diperhatikan bahwa masih banyak sekali yang tidak
terpengaruh oleh pola persuasif yang dijalankan Presiden Joko Widodo. Ini terlihat
dari pengamatan saya baik di kehidupan nyata dalam dunia kampus hingga
ketegangan yang masih saja terjadi di sosial media dari tiap-tiap elemen yang
tetap teguh memegang bendera prinsipnya masing-masing. Apa yang salah?
Sepertinya Presiden Joko Widodo
perlu mencontek sejenak bagaimana cara Presiden RI terdahulu, dalam hal ini
Soekarno, yang dapat mengeksternalisasikan wacana kritisnya hingga masyarakat
Indonesia pada saat itu secara lugas menginternalisasikannya dan
mengaktualisasikannya secara nyata. Tidak hanya itu, masyarakat asing juga
menginternalisasikan pendapat Soekarno pada waktu itu dan merasa segan
sekaligus takjub dengan kepemimpinan dan keberaniannya. Jejak sosok Soekarno
dan cara komunikasinya dituangkan dalam buku Prof. Tjipta Lesmana yang berjudul
Dari Soekarno Sampai SBY, berikut
penjelasannya;
“Ketegasan, keberanian, dan
sikapnya yang teguh tentu sangat memengaruhi komunikasi politik Soekarno. Komunikasinya
straight to the point, tidak
putar-putar, tidak menggunakan bahasa bersayap, jelas; diucapkan sering kali
dengan dukungan body language yang
sangat kuat seperti menunjuk-nunjuk sesuatu dengan tangannya, memlototkan mata,
dan lain sebagainya. Konkretnya, Soekarno berbahasa low context. Ia tidak suka high
context. Ketegasan dan keteguhan Soekarno dalam berkomunikasi juga
dimanifestasikan melalui suaranya yang melengking, bahkan menggeleger seperti
suara halilintar membelah angkasa.”[2]
Melihat gambaran yang disajikan
oleh Prof. Tjipta dalam menuliskan Soekarno dalam komunikasinya untuk
meyakinkan masyarakat memberikan kita kekaguman tersendiri bahwa bangsa
Indonesia pernah mempunyai pemimpin yang tegas, berani, dan lugas. Seperti diakhir
kalimat dalam pernyataan buku Prof. Tjipta, yakni komunikasi Soekarno
dimanifestasikan melalui suaranya yang melengking bahkan menggeleger seperti
suara halilintar membelah angkasa. Tentunya hiperbola yang dijelaskan Prof.
Tjipta tidak asal sembarang, generasi milenial agaknya dapat secara mudah
melihat bagaimana Soekarno melakukan pidatonya yang bersifat persuasi secara
lantang dan jelas dengan menonton rekaman videonya yang beredar di sosial media Youtube. Implikasi dari cara berkomunikasi Soekarno, ia dapat merebut hati rakyat dan rakyat
dapat menjalankan kehidupannya sesuai dengan arahan yang diberikan Soekarno,
seperti misalnya mengaktualisasikan nilai Pancasila.
Hal tersebutlah yang tidak
dimiliki Presiden Joko Widodo. Presiden Joko Widodo terlalu lembut, terbata-bata dan cenderung terpaku pada teks bacaan dalam memengaruhi masyarakat untuk mengikuti ajakannya. Tentunya kita semua setuju apa yang ditekankan oleh
Presiden Joko Widodo sangat berlandaskan cita-cita yang dianut dalam
sendi-sendi tiap sila di Pancasila, namun cara penyampaiannya itu yang masih
jauh dari kata tegas, berani, dan lugas seperti yang dilakukan oleh Soekarno. Inilah
mengapa banyak masyarakat yang mendengar pidato atau ajakan dari Presiden Joko
Widodo bersikap acuh dan tidak tergerak, karena dari pola komunikasi pemimpinnya saja tidak
meyakinkan!
Kenneth E. Anderson pernah menyatakan bahwa komunikasi persuasif merupakan komunikasi antar individu maupun dengan kelompok, Komunikasi tersebut terjadi dimana komunikator menggunakan simbol-simbol untuk mempengaruhi pikiran si penerima sebagai dengan sendirinya, komunikator dapat merubah tingkah laku dan perbuatan audiens.[3] Berdasar pada konsepsi Kenneth mengenai komunikasi persuasif, tentunya dapat dijajarkan bahwa Presiden Joko Widodo kurang dalam menggunakan simbol-simbol dalam penegasannya untuk dapat di internalisasikan oleh masyarakat yang menyaksikan. Kekuatan dari simbol dalam komunikasi yang dilakukan kiranya dapat meyakinkan komunikan bahwa ada urgensi yang patut menjadi perhatian.
Disini saya tidak ingin
mendiskreditkan Presiden Joko Widodo, jujur saja pada Pilpres 2014 lalu saya
adalah pendukung Joko Widodo agar naik menjadi Presiden Indonesia periode
2014-2019. Namun sikap kritis harus selalu ada dibenak kita sebagai anak
bangsa, baik itu pro kepada apa yang dibela maupun kontra. Tentunya sikap
kritis tadi harus bersifat konstruktif demi kemaslahatan bersama.
Agaknya tulisan sederhana saya
ini dapat menjadi renungan untuk Presiden Joko Widodo maupun tim komunikasinya dalam hubungan masyarakat, dan terkhusus untuk calon-calon pemimpin bangsa agar mempunyai landasan untuk mempengaruhi masyarakat guna mendapatkan kepercayaan yang legitim dari masyarakat kepada
pemimpinnya.
Catatan
[1] Sahid, Komarudin. 2011. Memahami Sosiologi Politik. Bogor:
Ghalia Indonesia. hlm. 60.
Referensi
Lesmana, Tjipta. 2009. Dari Soekarno sampai SBY: Intrik
& Lobi Politik Para Penguasa. Jakarta: Gramedia
Rakhmat, Jalaludin. 2001. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Rush, Michael & Althoff, Phillip. 2008. Pengantar Sosiologi Politik.
Jakarta: Rajawali Pers
Sahid, Komarudin. 2011. Memahami
Sosiologi Politik. Bogor: Ghalia Indonesia